![]() |
| Foto : Seusai Diskusi Bersama Mengenai Pemekaran Provinsi Papua Tengah Di Ciloa 39 IPMAPANDODE Bandung |
Ikatan pelajar mahasiswa
Nabire, Paniai, Dogiyai dan Deiyai yang tergabung dalam IMASEPA Bandung
berkoraborasi dengan Ikatan pelajar Mahasiswa Mimika dan Keluarga Besar Ikatan
Pelajar Mahasiswa Moni, mengadakan diskusi bersama terkain pemekarang Provinsi
Papua Tengah.
Diskusi Pemekaran Provinsi
Papua tengah di bawakan oleh Frans Siskus Pekei, selaku pembina organisasi
IPMANAPANDODE dan berstudi di universitas Jendral Achmad Yani Ciloa 39 Jl. Cikaso
Barat ll.
Sebagai pemateri Frans
siskus Pekei menyatan bahwa, Sebagai generasi muda mari kita bersama dan
mencari faktor-faktor yang mempengaruhi para elit politi loka yang berkeinginan
untuk mekarkan Provinsi Papua tengah saat ini.
Ketua IPMANAPANDODE
Bandung Adelin A Madai menyatakan bahwo, isuh pemekarang sendiri sudah dua kali,
perta kali di isuhkan semenjak Drs. Anselmus Petrus
Youw menjadi Bupati Nabire Selama dua beriode dari tahun1999 sampai dengan 2009,
setelah memasuki pemilihan bupati baru pada tahun 2010, isuh tentang pemekaran
Papua tengah kini hilang.
Isaias Douw S.Sos
menjabat menjadi bupati Nabire pada periode pertama tahun2010 sampai dengan 2015,
dan periode keduapun terpilih menjadi bupati Nabire pada tahun 2016 sampai
memasuki akhir periode tahun 2019 ini, para elite politik lokal mengadakan
asosiasi bersama untuk pemekaran Provinsi Papua Tengah, di dalam pembahasan di
lakukan oleh para bupati Meeuwodide pasti ada unsul kepetingan.
Untuk memperkaya diri
Isaias Douw memutar otak utnuk menjadi Guburnur Provinsi Papua tengah ia
menguras dana khas Nabire untuk mendukung Bupati Dogiyai, Paniai dan Deiyai tetapi
usahan yang di lakukan di kabupaten Deiyai sebagai tanah asalnya sendir tidak
kesampaian.
Apa bila isuh ini
melewati berakhirnya masa jabatan Isaias Douw maka saya yakin Pemekaran
Provinsi Papua Tengah tidak akan terwujub. Terkait pemekaran Provinsi Papua Tengah
saya minta supaya kita sebagai mahasiswa terpelajar dapat menyuwarakan hal ini
bersama, karena kita lah yang menentukan bagaimana nasib anak cucu kita
kedepannya.
Apa bila diskusi yang di
lakukan oleh masiswa dan membuat pernyatan sikap jangan posting di media-media
berskala komunitas, atau blogger pribadi, tetapi saya minta supaya dapat
mengirimnya di media media besar seperti jubi.co.id, bila perlu di media skala
internasional, supaya di lihat oleh pemerinta pusat dan mengambil tidak lanjut,
di samping itu kita bisa turun jalan untuk berdemonstran kepada pemerinta
pusat, apa bila tidak ada aksi yang di buat oleh kita, maka pemekarang Provinsi
Papua Tengah ini bisah saja terjadi. Sebagai putra asli daerah kabupten Nabire
saya menyatan tidak setuju dengan parah elite politikus lokal, tuturnya.
Peserta diskusi yang tergabung
dalam organisi IPMAMI menyatakan bahwa saat ini tiga kabupaten sedang dalam perebutan
ibu kota provinsi Papua Tengan iya itu di antaranya Biak, Nabire dan Kota Timi
sendiri, saya sebagai putra asli daerah tidak sepak dengan Pemekarang Provinsi
Papua Tengah ini.
Ketua IPMO manyatakan
bahwa apa bila ada pemekarang yang terjadi di Papua Barat ini hanya akan perkaya
orang-orang imigrasi dari luar Papua, untuk orang asli Papua sendiri akan
tersingkirkan kerena pembiasaan otonimi khusus dan dana desa yang di berikan
oleh pemerinta sehingga masyarat pribumi menjadi malas, apa bila Provinsi Papua
Tengah sudah di mekarkan, penduduk pribumi akan menjadi pendatang di negerihnya
sendiri.
Ujung dari semua ini hanyalah
pemusnaan kami bangsa melanesia, berapa pulu tahun ke depan Papua bisa tinggal
nama, orang akan cerita, pulau Papua dulu di huni oleh kulit hitam, tetapi kini
hanya tinggal kenangan, orang Papua sendiri bisa mengikuti jejak suku Aborijin
di Australi.
Oleh : HUMAS IPMANAPANDODE Bandung
