Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Test link

Refleksi 39 Tahun kematian Arnold C Ap dan Perkembangan Musik Papua khusus Musik tradisional Mee.

  
Arnold Ap (kiri) berpose dengan Sam Kapissa, salah satu pendiri Mambesak. (Koleksi pribadi/Raka Ibrahim-The Jakarta Post) 

 Opini oleh : Wilda Ukago.

Di hari peringatan kematian Arnold Clemenes Ap yang ke-39 tahun ini saya mau menulis refleksi tentang Di hari peringatan kematian Arnold Clemenes Ap yang ke-39 tahun ini saya mau menulis refleksi tentang Musik mambesak yang menyatukan dan perkembangan musik Papua saat ini. Disini saya tidak membahas soal Arnold Ap dan gerakan politiknya namun lebih khusus saya menulis tentang bagaimana  perkembangan musik itu sendiri sesudah mambesak dan pengaruhnya terhadap musik tradisional mee.

Awal ide ini muncul ketika saya membuka media sosial facebook dan menemukan satu postingan yang membuka pikiran untuk mencari tahu apa sebabnya?...

"Orang Pantai, Orang Dani dan Orang PNG tra pernah simpan bahkan tra pernah pasang dan duduk dengar lagu/musik dari Orang Mee. Orang Mee udik dengar mereka punya lagu/musik". Tulis  Yakitouby Armando Herman You  di akun facebook miliknya. Sebagai seorang musisi, penyanyi, pencipta lagu dan seniman yang berasal dari Meepago tentu ia tidak asal-asalan dalam menulis postingan tersebut. Ada kekhawatiran dan kepedulian yang mengganjal batinnya sehingga ia menulis demikian.

Saya melihat bahwa ini adalah kritik dan refleksi untuk kita generasi muda Papua khususnya suku Mee. Bahwa ada hal yang harus kita diskusikan bersama guna menjaga kesenian dan kebudayaan kita (Suku Mee) agar tidak punah. Pertanyaannya adalah :

Apakah benar bahwa musik Tradisional Mee telah kehilangan panggungnya sebagai tandanya bahwa musik Mee akan segera punah?....

Sebelum membahasnya lebih jauh baiknya kita melihat sedikit sejarah perkembangan musik papua yang ditinggalkan oleh Pelopor musik Papua. Selengkapnya baca disini  (https://suarapapua.com/2022/02/22/sejarah-musik-modern-di-tanah-papua/)

Musik itu telah menyatu dan hidup bersama orang Papua sejarah dan realita telah membuktikannya. Sebagai orang papua dan berasal dari suku Mee, saya pun menyukai musik. Lagu-lagu  Mambesak, Black Brothers, Rio Grime, Black Sweet, Totamana, Deiyai Tobe, Taruatune,Yimuna, Manico, Ampi Nabire dll adalah lagu-lagu Papua yang sering saya dengar hingga kini selain Lagu-lagu PNG, Lagu Barat dan Lagu Rohani. Namun disini saya hanya membahas Group musik Mambesak dan Group Musik Tradisional Mee untuk merefleksikan pertanyaan diatas.

Group Musik Mambesak

Hari ini tanggal 26 April, 39 tahun lalu pendiri Grop musik Mambesak Arnold Clemes Ap menghembuskan nafas terakhirnya ia tewas akibat tembakan senjata api di punggungnya. Dengan meninggalnya Arnold Ap seakan hilang juga roh dari mambesak.

"Lagu membesak itu lagu-lagu orang tua-tua dong (mereka)" adalah kalimat yang sering saya dengar. Tak hanya lagunya mungkin nama Mambesak saja telah asing ditelinga anak jaman sekarang. Disini kita bisa melihat bahwa perkembangan musik Papua telah berubah, berkembang lebih modern-HipHop dibandingkan dengan jaman dimana Arnold Ap dan Mambesak memainkan musik mereka. Dengan alat musik lokal yang sangat sederhana seperti Tifa, Suling bambu, Tambur, Ukulele, Tabura (kulit Kerang) dan lainnya. Group Mambesak mampu menggarab Lagu-lagu daerah dari bahasa suku-suku yang ada di Papua, di arransemen dengan   nada-nada yang sederhana dan mudah diingat. Salah satu lagu yang berjudul Domi Dou berasal dari bahasa Mee. Dengan keunikan yang dimiliki membesak adalah pelopor dalam musik Tradisional Papua dan sebagai pembuka jalan bagi Group musik Tradisional Papua lainnya.

Group Musik Tradisional Mee

Mengikuti Jejak Mambesak ada beberapa Group Musik tradisional asal Meepago yang mempunyai konsep bermusik sama dengan mambesak  yaitu; Tune Mana Group (1985), Tota Mana Group (1994), Mutaetuwai Group (1995), Yimuna (1996), Deiyai Tobe (1997), Tarua Tune Group (2000), Wiyaimana Group, dll. Berbekal alat musik sederhana mereka menciptakan lagu-lagu berbahasa Mee,Moni, Wamena,Mimika dan bahasa suku-suku lainnya di Papua dengan berbagai tema  yang dekat dengan kehidupan masyarakat setempat. Irama dan nada yang sederhana namun tak lekang oleh waktu. Menurut saya Tahun 80-an hingga 2000-an awal adalah Masa Keemasan Group Tradisional Mee dalam bermusik. Setidaknya dengan alat musik seadanya dan luasnya pengetahuan tentang musik menjadikan mereka layak diapresiasi. Apalagi mengingat belum adanya perkembangan internet yang memudahkan mereka saat itu. Namun lagu-lagu mereka digemari dan beredar luas di masyarakat Papua khususnya  Meepago, Lapago dan Saireri.

Menurut saya dengan berakhirnya karya-karya dari Group musik tradisional Mee diatas seakan menjadi batas akhir perkembangan musik Tradisional Mee. Kalau pun masih ada yang memakai konsep bermusik diatas kebanyakan berkembang di wilayah setempat atau komunitas setempat.

Perkembangan Musik/Audio Digital dan pengaruhnya terhadap musik Mee.

Pesatnya Perkembangan Internet dan Teknologi turut mempengaruhi kehidupan musik yang telah dihidupkan oleh Generasi sebelumnya. Kebudayaan barat, yang tadinya asing kini menjadi dekat karena Pengaruh Internet, Menjamurnya musik hip-hop (Rap)  ditanah Papua menjadikan generasi muda saat ini lebih memilih yang instan dalam bermusiknya. Tak perlu latihan senam jari di gitar, cukup dengan laptop/komputer, mic dan speaker kita bisa jadi musisi dan penyanyi dalam sekejap. Lagu-lagu tradisional Mee yang tadinya dimainkan oleh Petikan gitar, kini telah diremix dan dikolaborasi dengan teknologi sehingga terjadi digitalisasi musik. Musik Wisisi yang berasal dari Lapago juga sudah dikolaborasi dengan teknologi modern dan bisa kita nikmati kapan saja lewat Platform Youtube.  Dengan adanya Youtube kita bisa menikmati apa saja yang ada disana. Tak hanya lagu tradisional dan lagu PNG, Lagu Barat pun di Cover dan diremix oleh Musisi jaman sekarang entah karena tuntutan pasar atau karena suka adalah sesuatu yang tak bisa kita batasi. Baik penikmat maupun musisi punya caranya tersendiri dalam mengekspresikannya.

Kesimpulan:

Soal selera musik, tak ada yang bisa memaksakan seseorang untuk harus menyukai sesuatu. musik itu bahasa Universal.  Kita tidak bisa membatasi apa yang disajikan tetapi kita bisa memilih apa yang harus kita makan agar tidak menjadi racun didalam tubuh kita.

Sebagai penikmat musik Papua saya berharap dengan peringatan kematian Sang Pemersatu itu semoga kita tak melupakan budaya dan jatidiri kita. Dari mana kita berasal dan kemana kita akan pergi. Agar kita dapat terus Bernyanyi untuk hidup.

#mambesak

Wiug96

Bdg 26/4/23Arnold Ap (kiri) berpose dengan Sam Kapissa, salah satu pendiri Mambesak. (Koleksi pribadi/Raka Ibrahim-The Jakarta Post)

Posting Komentar

© ipmanapandodebandung. All rights reserved. Distributed by ASThemesWorld